Blog

Mata Minus Atau Silinder? Don’t Worry! Pengobatan Lasik Yang Dapat Membantu Mata Kembali Normal.

Lasik
Uncategorized

Mata Minus Atau Silinder? Don’t Worry! Pengobatan Lasik Yang Dapat Membantu Mata Kembali Normal.

Mata silinder atau astigmatisme adalah kondisi penglihatan kabur dan dapat dialami bersamaan dengan rabun jauh (miopi) ataupun rabun dekat (hipermetropi). Astigmatisme terjadi karena lengkungan kornea atau lensa mata tidak sempurna. Untuk mengatasi gangguan penglihatan tersebut dengan menggunakan kacamata, lensa kontak, atau operasi Lasik.

Rabun jauh (miopia) adalah kelainan refraksi yang ditandai dengan gejala penglihatan dapat melihat objek pada jarak dekat dengan jelas, namun buram untuk melihat objek yang lebih jauh. Ini terjadi akibat bentuk atau panjang bola mata menyebabkan sinar cahaya masuk ke dalam bola mata dibiaskan secara tidak tepat, sehingga memfokuskan objek jatuh di depan retina, bukan di retina.

Rabun jauh dapat berkembang secara bertahap atau cepat terutama selama masa kanak-kanak dan remaja. Rabun jauh cenderung terjadi dalam sebuah keluarga (faktor keturunan) dan lingkungan (perilaku). Melalui pemeriksaan mata dasar dapat memastikan adanya rabun jauh.

Mata silinder adalah jenis kelainan refraksi mata sangat umum ditemukan. Astigmatisme biasanya diturunkan dan dialami bersamaan dengan kelainan refraksi seperti rabun jauh atau rabun dekat.

Gejala Mata Silinder

Berikut adalah tanda-tanda dan gejala mata silinder yang perlu diwaspadai:

  1. Pandangan mata buram, garis lurus terlihat miring atau berbayang
  2. Sulit melihat dalam jarak dekat maupun jauh
  3. Kesulitan melihat di malam hari
  4. Perlu menyipitkan mata saat melihat
  5. Mata terganggu
  6. Sakit kepala
Fakta Operasi Lasik Atau Pengobatan Lasik
Operasi Laser

Pengobatan yang dapat membuat mata kembali normal atau bisa dibilang bahwa pengobatan lasik ini mampu menyembuhkan mata minus ataupun mata silinder.

LASIK (Laser-Assisted in situ Keratomileusis) menjadi satu metode populer untuk memperbaiki  kelainan mata minus, plus, dan silinder. Secara umum, operasi ini akan mengembalikan lengkungan mata menjadi normal.

Semakin sering didengar banyak orang dan digembor-gemborkan sebagai solusi permanen untuk bebas dari alat bantu baca. Sesuai namanya, singkatan dari Laser-Assisted in Situ Keratomileusis merupakan operasi yang menggunakan laser untuk memperbaiki kelainan refraksi pada mata sepeeti mata minus (rabun jauh), plus (rabun dekat) atau silinder.

Operasi laser ini mulai dikembangkan sejak awal tahun 1980. Kemudian, mendapat patennya pertama kali di tahun 1985 dan mulai dipraktikan sejak awal 1990 di Amerika Serikat.

Operasi laser mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 1997. Dengan sejarah yang dipaparkan tadi, Lasik terbukti bukanlah sebuah penemuan baru, sudah ada sejak lebih dari 20 tahun lalu.

Artinya, teknologi Lasik telah melalui kemajuan yang signifikan hingga hari ini. Dulu, prosedur Lasik meliputi  penggunaan pisau khusus. Kemudian lahir lah istilah “bladeless” Lasik yang mengganti penggunaan pisau dengan laser (disebut: femtosecond).

Secara garis besar, tindakan LASIK meliputi penggunaan jenis laser khusus  untuk mengubah bentuk kornea, jaringan transparan yang bentuknya seperti kubah di bagian depan mata. Layaknya setiap tindakan bedah apapun pasti memiliki risiko, LASIK pun tak terkecuali.

Prosedur Lasik

Operasi Laser

LASIK meliputi tindakan yaitu membentuk flap pada lapisan kornea.

Kemudian flap diangkat, sejumlah jaringan di bawahnya dihilangkan untuk membetulkan bentuk kornea sehingga mata mendapatkan fokus lebih baik terhadap objek.

Dulu, LASIK konvensional menggunakan pisau untuk membentuk flap. Seiring berkembangnya teknologi adalah yang disebut “bladeless” LASIK, tanpa pisau sama sekali. Teknologi ini menggunakan laser khusus bernama femtosecond untuk membentuk flap.

Kemudian setelah flap dibuka, akan digunakan laser khusus yang disebut laser excimer untuk membetulkan bentuk kornea. Setelah itu, flap diposisikan ulang dan akan melekat sendirinya pada lapisan mata. Total waktu yang dibutuhkan untuk tindakan ini hanya sekitar 10 hingga 20 menit.

Di zaman modern ini, teknologi wavefront turut digunakan dalam prosedur LASIK, untuk meningkatkan tingkat keberhasilannya. Teknologi ini digunakan untuk melakukan pemetaan kornea yang akurat.

Pasalnya, tiap mata seseorang berbeda dengan orang lain. Sifatnya seunik sidik jari yang berbeda-beda di tiap orang. Wavefront dapat melakukan analisis yang menentukan ketajaman penglihatan seseorang dengan mengumpulkan gambaran dengan definisi tinggi dari jalur visual tiap mata.

Pemetaan ini dilakukan sebelum flap dibuka agar kemudian membantu dokter untuk melakukan perubahan pada bentuk kornea. Kebutuhan koreksi dari masing-masing mata dapat ditentukan dengan akurasi yang tinggi.

Hasilnya, kemungkinan untuk berhasil memperbaiki kelainan refraksi sepenuhnya jadi semakin besar.

Namun kembali lagi kepada kondisi orang masing-masing. Tidak semua orang mendapat hasil yang sama.

Inilah pentingnya dilakukan pemeriksaan komprehensif sebelum prosedur LASIK, yang meliputi:

  • Pemeriksaan refraksi
  • Pengukuran tekanan intraokular (bola mata)
  • Topografi (pemetaan) kornea
  • Pemeriksaan produksi air mata
  • Pengukuran ketebalan kornea
  • Penggunaan specular microscope untuk memeriksa penyakit kornea
  • Pemeriksaan laboratorium
  • Pemeriksaan mata secara fisik.

Dokter kemudian dapat menentukan apabila seseorang dapat atau tidak dapat melakukan operasi laser.

Baca Juga: Hati – Hati! Dampak Dari Terlalu Lama Menatap Layar Komputer Bagi Kesehatan Mata

Leave your thought here

Your email address will not be published.

Select the fields to be shown. Others will be hidden. Drag and drop to rearrange the order.
  • Image
  • SKU
  • Rating
  • Price
  • Stock
  • Availability
  • Add to cart
  • Description
  • Content
  • Weight
  • Dimensions
  • Additional information
  • Attributes
  • Custom attributes
  • Custom fields
Click outside to hide the compare bar
Compare