Blog

Stop Worry! Kenali 4 Penyakit Saraf Pada Anak-Anak Yuk Sebelum Terlambat.

Penyakit syaraf pada Anak
Penyakit Kesehatan

Stop Worry! Kenali 4 Penyakit Saraf Pada Anak-Anak Yuk Sebelum Terlambat.

Otak merupakan bagian yang paling utama dalam mengontrol setiap kehidupan maupun pergerakan manusia. Sehingga otak memiliki miliaran pekerjaan khusus melalui proses elektrokimia yang sangat kompleks. Dilansir dari Popmama.com, saraf sendiri bekerja bergantung pada sel kecil yang dinamakan neuron.

Penyakit saraf atau gangguan neurologist merupakan suatu penyakit pada bagian otak sistem saraf tidak bekerja selayaknya. Penyakit ini tidak hanya menyerang orang dewasa saja melainkan juga pada anak dan banyak juga ditemukan kasusnya pada usia dini.

Jika penyakit ini terus berada di dalam tubuh anak maka nantinya akan dapat mempengaruhi perkembangan pada anak sehingga dapat menimbulkan gejala-gejala tertentu yang akan mempengaruhi fisik dan psikologisnya, tergantung bagian mana yang mengalami gangguan. Berikut 6 penyakit pada saraf yang sering terjadi pada anak yang perlu untuk diketahui:

1. Spina Bifida: Penyakit Saraf Utama Pada Anak-Anak.

Penyakit saraf pada Anak
Kelainan pada Tubuh Anak. Sumber: Alomedika.com

Spina bifida merupakan kondisi yang mana adanya kelainan berupa tulang belakang dan sumsum tulang belakang tidak terbentuk dengan sempurna atau rusak. Kondisi ini akan ditemui saat bayi baru lahir hingga anak ketika memasuki usia sekolah. Anak yang mengalami kondisi ini biasanya akan mengalami kegagalan perkembangan pada tabung saraf sebagian atau tabung yang tidak menutup dengan benar seperti pada umumnya.

Tabung saraf merupakan bagian dari embrio yang berkembang menjadi otak, sumsum tulang belakang, dan jaringan lainnya. Kondisi ini bisa terbilang ringan namun juga bisa sangat parah. Hal tersebut bergantung dari jenis kerusakannya, ukuran, lokasi, dan juga komplikasi yang terjadi. Berikut tanda dan gejalanya tergantung jenisnya:

Tipe Spina Bifida. Sumber: Medisata.com
  • Aperta: Kondisi yang mana jaringan saraf mengalami protrusi dan terpapar tanpa tertutup
  • Okulta: Merupakan kondisi yang mana protrusi jaringan saraf tidak terpapar secara langsung karena tertutup jaringan kulit. Pada umumnya jenis Okulta ini tidak merusak sistem saraf tulang belakang. Bayi yang mengalami kondisi ini memiliki ciri-ciri seperti, muncul rambut di bagian punggung dan adanya tanda lahir/lesung pipit di bagian yang terdampak spina bifida. Dalam spina bifida okulta memiliki beragam jenisnya juga, seperti meningokel dan mielomeningokel.
  • Meningokel: Gejala munculnya penyakit ini adalah adanya jaringan yang berbentuk kantung yang berisi cairan yang berada pada punggung bayi. Hal tersebut dapat ditemukan ketika bayi telah lahir.
  • Mielomeningokel: Gejalanya sama seperti meningokel, namun juga memiliki gejala lainnya seperti, pembesaran kepala karena penumpukan cairan otak, adanya perubahan perilaku serta kognitif, tubuh tidak bertenaga dan lebih kaku, sakit punggung.

Penyakit saraf bifida ini biasanya dikaitkan dengan faktor genetik sebanyak 60-70% kasus yang dapat mempengaruhi anak mengalami kondisi ini. Namun juga faktor non-genetik juga bisa terjadi yang disebabkan oleh rendah asupan asam folat serta faktor lingkungan.

2. Epilepsi

Epilepsi pada anak. Sumber: Liputan6.com

Epilepsi merupakan gangguan pada sistem saraf pusat yang diakibatkan oleh pola aktivitas listrik otak yang tidak normal yang dipengaruhi oleh faktor genetik/keturunan, cedera kepala, usia, dan adanya masalah pada otak. Gejala yang ditunjukkan dari epilepsi adalah kejang, perilaku yang tidak biasa dan bahkan sampai hilang kesadaran. Untuk mengenali penyakit ini kita bisa melihat dari gejala kejang yang terjadi pada tubuh anak-anak secara tiba-tiba.

Kejang yang terjadi tersebut diakibatkan oleh adanya impuls listrik yang melebihi batas normal sehingga listrik tersebut disalurkan ke otot tubuh sehingga menimbulkan kejang. Dokter mengatakan jika kejang ini terbagi menjadi dua tipe, yaitu kejang fokal dan kejang umum. Pada anak-anak sendiri, epilepsi dapat menyebabkan masalah dalam mengendalikan otot, terganggunya kemampuan bahasa anak, dan gangguan memori serta kemampuan belajar.

Berdasarakan situs resmi di IDAI/Ikatan Dokter Anaka Indonesia, jika anak satu kali mengalami kejang tanpa ada penyebabnya, hal tersebut tidak tergolong epilepsi. Jika anak masih mengalami kejang kembali maka sebaiknya anak dibeikan obat antiepilepsi. Namun jika anak mengalami kejang satu kali dan berlangsung lama sampai 30 menit maka disarankan juga memberi obat antiepilepsi pada anak-anak sesuai dengan aturan dokter.

Baca juga: Melafind Scanner Diyakini 98% Akurat Dapat Deteksi Kanker Kulit Melanoma Melalui Gelombang Elektromagnetik, Impressive.

3. Hidrosefalus

Hidrosefalus pada anak. Sumber: Hellosehat

Hidrosefalus adalah kondisi yang mana adanya penumpukan cairan sebrospinal pada rongga otak. Cairan tersebut mengalir lewat otak dan sumsum tulang belakang lalu diserap pembuluh darah. Akibat dari tekanan pada cairan yang banyak bisa menimbulkan masalah pada fungsi otak.

Gejala yang timbul dari hidrosefalus sendiri adalah ukuran kepala yang besar/tidak normal, muntah-muntah, kejang otot, sulit berkonsentrasi, nafsu makan menurun, lemah, dan lainnya. Selain memiliki gejala kepala yang memiliki ukuran besar, namun seluruh bagian tubuh anak akan terdampak dari penyakit hidrosefalus ini, salah satunya adalah gangguan tumbuh kembang dan penurunan kecerdasan.

Untuk itu perlu diwaspadai jika anak-anak memiliki tanda khusus yang mengharuskan anak diperiksa untuk mengetahui apakah anak terkena hidrosefalus, seperti muntah berulang kali, berteriak dengan nada tinggi, sulit bernafas, sulit menggerakkan kepala, dan bermasalah ketika menyusui.

4. Cerebral Palsy

Penyakit Cerebral Palsy. Sumber: Kompas Health

Cerebral Palsy atau lumpuh otak merupakan penyakit yang menyebabkan gangguan pada gerakan dan koordinasi pada tubuh. Hal ini disebabkan oleh gangguan perkembangan otak yang terjadi pada saat anak masih dalam kandungan. Anak-anak yang mengalami kondisi ini cenderung akan mengalami kecacatan pada perkembangan motorik dari ringan sampai yang terberat. Sehingga akan mengalami kesulitan berjalan atau tidak bisa berjalan sama sekali dan menggunakan alat bantu seperti kursi roda yang didesain khusus untuk mereka.

Gejala lain yang timbul dari cerebal palsy adalah sering mengalami tremor, air liur berlebih dan memiliki masalah dalam menelan, kesulitan mengisap atau mengunyah makanan dan lambat dalam berbicara. Sampai saat ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan celebral palsy sendiri.

Leave your thought here

Your email address will not be published.

Select the fields to be shown. Others will be hidden. Drag and drop to rearrange the order.
  • Image
  • SKU
  • Rating
  • Price
  • Stock
  • Availability
  • Add to cart
  • Description
  • Content
  • Weight
  • Dimensions
  • Additional information
  • Attributes
  • Custom attributes
  • Custom fields
Click outside to hide the compare bar
Compare